
RUTENG, 18 Juni 2026 – Program Studi Agronomi Unika Santu Paulus Ruteng bersama Program Studi Agroteknologi Universitas Mulawarman sukses menggelar Seminar Program Studi Seri 18 secara daring pada Kamis (18/06/2026). Pertemuan ilmiah ini menghadirkan Dr. Ir. Encik Akhmad Syaifudin, pakar pengendalian gulma dan tumbuhan invasif terpadu dari Universitas Mulawarman, sebagai narasumber utama.
Seminar yang berlangsung sejak pukul 14.00 WITA ini menjadi wadah penting untuk membahas peran gulma dalam pertanian berkelanjutan. Kehadiran Dr. Encik memberikan perspektif baru bahwa gulma tidak semata-mata harus dipandang sebagai pengganggu tanaman, melainkan bagian integral dari agroekosistem yang dapat memberi manfaat bila dikelola dengan tepat. Agenda akademik ini diikuti dengan antusiasme oleh mahasiswa dan jajaran dosen dari kedua program studi, mencerminkan komitmen bersama untuk mengembangkan solusi pertanian masa depan yang lebih ramah lingkungan, produktif, dan berkelanjutan.

Dr. Ir. Encik Akhmad Syaifudin selaku narasumber mengajak peserta untuk menggeser perspektif konvensional dalam memandang keberadaan gulma di lahan pertanian. Selama ini gulma selalu dicap negatif sebagai organisme pengganggu tanaman (OPT) yang harus diberantas habis karena berkompetisi memperebutkan air, cahaya matahari, unsur hara, serta memiliki efek alelopati. Sebaliknya, dalam perspektif pertanian berkelanjutan, gulma dipandang sebagai bagian penting dari agroekosistem yang tidak dapat diabaikan. Dr. Encik menegaskan bahwa praktik pertanian berkelanjutan harus berlandaskan tiga pilar utama: keberlanjutan ekologis, keberlanjutan ekonomis, dan keberlanjutan sosial budaya. Karena itu, pendekatan pengendalian konvensional yang selama ini bertumpu pada penggunaan herbisida kimia secara masif perlu dikurangi, dan diarahkan menuju strategi pengelolaan yang lebih bijaksana serta ramah lingkungan.Narasumber kemudian mengupas tuntas berbagai jasa ekosistem (ecosystem services) yang disediakan oleh gulma jika dikelola secara tepat. Beberapa peran positif tersebut di antaranya sebagai sumber nektar bagi serangga penyerbuk, penyedia mikrohabitat bagi organisme tanah yang berguna, penahan erosi, sekaligus penutup tanah yang menjaga kelembapan. Spesies seperti Ageratum conyzoides, Bidens pilosa, Mimosa pudica, Tithonia diversifolia, dan Wedelia trilobata menjadi contoh tanaman yang memiliki peran ekologis tersebut. Seminar ini juga mengulas hasil riset mengenai potensi pemanfaatan biomassa gulma dominan seperti Fimbristylis miliacea, Lindernia anagallis, Cyperus halpan, dan Ludwigia perennis. Gulma-gulma ini terbukti kaya kandungan nutrisi penting seperti kalsium, fosfor, dan protein kasar. Pengaplikasian pupuk berbasis tanaman (biobased fertilisers) dari biomassa ini terbukti mampu meningkatkan kualitas tanah, Kapasitas Tukar Kation (CEC), karbon total, serta bahan organik tanah.
Menurut Dr. Encik, teknologi yang terus berkembang perlu dimanfaatkan untuk identifikasi dan pengelolaan gulma secara tepat, agar pertanian di masa depan berjalan lebih efektif sekaligus ramah lingkungan. Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang berlangsung hangat dan penuh antusiasme antara narasumber, dosen, dan mahasiswa. Percakapan tersebut menyoroti berbagai tantangan dalam penerapan bioherbisida di lapangan sekaligus membuka peluang kolaborasi riset lanjutan. Melalui kegiatan ini, mahasiswa sebagai calon sarjana pertanian diharapkan memperoleh bekal semangat baru untuk mengembangkan praktik pertanian yang tidak hanya berorientasi pada produktivitas ekonomi, tetapi juga sejalan dengan prinsip keberlanjutan dan kelestarian lingkungan.
Penulis: TA

Pemaparan materi yang luar biasa dan sangat bermanfaat untuk pemahaman dan pengetahuan tentang pemanfaatan gulma.