RUTENG, 5 Juni 2026 – Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian dan Peternakan, Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT), sukses menyelenggarakan Seminar Program Studi Agronomi Seri 17. Acara yang berlangsung secara daring via Zoom Meeting pada Jumat (5/6/2026) mulai pukul 14.00 WITA ini menghadirkan pakar agronomi terkemuka dari IPB University, Prof. Dr. Ir. M. A. Chozin, M. Agr., sebagai pembicara utama.
Mengangkat tema “Potensi Gulma dalam Mendukung Pertanian Berkelanjutan”, seminar ini menantang cara pandang konvensional masyarakat pertanian terhadap gulma. Jika selama ini gulma secara subjektif didefinisikan sebagai tumbuhan pengganggu yang tidak diinginkan dan merugikan, forum ini justru mengajak peserta untuk melihat gulma dari perspektif ekologis yang kaya akan potensi positif.
Mengubah Masalah Menjadi Peluang
Dalam paparannya, Prof. Chozin menekankan pentingnya mengadopsi paradigma baru, yaitu “Hidup Berdampingan dengan Gulma”. Menurutnya, tujuan utama pengelolaan gulma masa kini bukan lagi memusnahkan seluruh populasinya hingga bersih, melainkan mengelolanya agar tetap berada di bawah ambang toleransi sembari memaksimalkan manfaat ekologis dan ekonomisnya demi pertanian berkelanjutan.
“Semakin kita memahami bioekologi gulma, mulai dari adaptasi lingkungan, siklus hidup, hingga interaksinya dengan tanaman budidaya, semakin besar pula peluang kita untuk mengubah gulma menjadi solusi masa depan pertanian,” jelas Prof. Chozin.
Tiga Studi Kasus Nyata Pemanfaatan Gulma
Untuk membuktikan potensi besar tersebut, seminar ini membedah tiga studi kasus riset nyata yang telah dikembangkan:
- Inovasi bioherbisida dari umbi teki (Cyperus rotundus): Riset mendalam dari IPB University berhasil memetakan roadmap pemanfaatan umbi teki menjadi bioherbisida alami ramah lingkungan. Penelitian yang telah berjalan mencakup analisis kandungan fenol, alpha-cyperone, hingga uji efikasi formulasi butiran (granul) di berbagai sistem lapangan seperti padi sawah, kedelai, dan bawang merah. Inovasi produk ini bahkan telah mengantongi paten untuk proses pembuatan, komposisi, serta mesin granulator khususnya, dengan target produksi massal dan demplot luas pada tahun 2026 melalui skema PRIME SteP.
- Multifungsi Arachis pintoi: Tanaman penutup tanah ini terbukti memiliki fungsi komprehensif bagi pertanian berkelanjutan. Selain mampu menekan gulma lain secara alami dan mencegah erosi, Arachis pintoi bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah (menambah nitrogen dan bahan organik), menjadi pakan ternak berkualitas tinggi, menjadi agen fitoremediasi, hingga diaplikasikan sebagai biomulsa hidup pada sistem olah tanah minimum (minimum tillage) tanaman tomat dan jagung.
- Vegetasi alami kebun sawit untuk pakan sapi: Studi kasus ketiga memperlihatkan pemanfaatan keanekaragaman vegetasi alami di lahan perkebunan sawit sebagai sumber pakan hijauan potensial berbasis tingkat kesukaan (palatabilitas) ternak sapi.
Pesan untuk Masa Depan Pertanian
Di akhir sesi, seminar merumuskan sebuah take-home message penting bagi para akademisi, mahasiswa, dan praktisi pertanian yang hadir. Saat ini terjadi pergeseran masif dari pandangan lama yang mengartikan gulma murni sebagai OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), menuju pandangan baru yang menempatkan gulma sebagai sumber daya bernilai ekonomi dan ekologis melalui integrasi penelitian, teknologi, dan inovasi.
Pemanfaatan gulma secara bijak diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani pada bahan kimia sintetis, meningkatkan kesehatan tanah, menjaga keanekaragaman hayati, serta memperkokoh ketahanan pangan yang ramah lingkungan.
Penulis: Tri Astuti
